Wednesday, April 20, 2016

Memilih Kehidupan Yang Etis

HEWAN dengan segala jenisnya digerakkan oleh naluri atau instingnya, tetapi manusia digerakkan oleh pilihan etisnya. Naluri menggerakkan hewan kepada arah dan pola tertentu serta bersifat tetap, sehingga pola hidup suatu hewan selalu dapat diprediksi dengan tepat. Tetapi untuk memprediksi sikap seseorang tidaklah mudah. Karena tiap-tiap orang digerakkan oleh kehendak bebasnya sehingga pilihan etisnya juga dilakukan berdasarkan nilai-nilai tertentu, keyakinan, karakter, dan situasi real saat itu.

Itu sebabnya pilihan etis setiap orang selalu bersifat unik dan personal. Mereka memiliki penafsiran tersendiri apa yang dimaksud dengan “Makna Kehidupan”. Bagi beberapa orang makna kehidupan dihayati sebagai suatu kesempatan untuk menikmati segala sesuatu (hedonisme), beberapa orang makna kehidupan dihayati dengan sikap bertarak, sebagian lagi menghayati makna kehidupan dengan peduli (bela-rasa), dan yang lain menghayati makna kehidupan dengan bersikap egoistis, sebagian menghayati makna hidup dengan mengasihi Allah, dan yang lain mengabaikan dan menolak Allah, dan sebagainya.

Yang jelas makna kehidupan yang dihayati oleh setiap orang mencerminkan arah dan tujuan hidupnya sendiri, sekaligus mencerminkan karakter, isi keyakinan dan spiritualitasnya. Semakin berkualitas makna kehidupan yang dijalani, maka semakin tinggi pula nilai-nilai dan kualitas karakter yang dimilikinya. Sebaliknya semakin dangkal makna kehidupan yang dijalani seseorang, maka akan tampak ketidakmampuan dia untuk melakukan pilihan etis secara benar.

Pengetahuan etis dan kemampuan memilih dapat saling melengkapi seseorang untuk mengambil keputusan etis yang tepat. Sebab melalui pengetahuan etis, kita dimampukan untuk membuat pertimbangan etis secara rasional. Pengetahuan etis dapat membantu kita untuk memperoleh pencerahan intelektual sehingga kita bersikap dan bertingkah-laku sesuai dengan nilai-nilai etis yang rasional. Tetapi pada pihak lain, kita juga harus ingat bahwa pengetahuan etis yang luas dan mendalam tidak menjamin kita untuk mampu membuat pilihan etis secara praktis. Misalnya kita dapat mengetahui secara mendalam tentang hukum negara baik yang tertulis maupun tidak tertulis dan hukum adat-istiadat dan kehendak Allah, tetapi realitanya kita tidak senantiasa mampu memberlakukan semua hukum tersebut dalam kehidupan kita. Pengetahuan yang lengkap tentang moralitas tidak menjamin kita menjadi seorang yang memberlakukan kesusilaan secara konsisten.

Dalam banyak kasus kita telah menjumpai orang-orang yang dianggap ahli etika dan tokoh moral, tetapi tiba-tiba dia terbukti terlibat dalam berbagai tindakan yang tidak senonoh. Seperti terlibat dalam kasus pelecehan sexual, pornografi, Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), perdagangan manusia (human trafficking), penjualan obat-obat terlarang dab sebagainya. Demikian pula banyak orang terkecoh dengan kesalehan para pemuka agama yang begitu lantang menentang pornografi, tetapi kemudian terbukti mereka sendiri bertahun-tahun mempraktekkan pornografi, pedophilia. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa pada satu pihak pengetahuan etis dan moral sangat dibutuhkan sebagai media pendidikan dan pembinaan masyarakat agar mereka dapat mampu memilih apa yang benar; tetapi pada pihak lain pengetahuan etis dapat menjadi media kemunafikan sebab dipakai untuk menyembunyikan hal-hal yang buruk dalam kehidupannya.

Jika demikian kemampuan memilih apa yang benar dan baik dalam kehidupan ini merupakan suatu perjuangan yang eksistensial. Tidak dijamin kemampuan kita untuk memilih secara tepat pada suatu waktu, berarti kita akan mampu memilih secara etis pada waktu yang lain. Karena pilihan-pilihan etis kita senantiasa berada dalam suatu kondisi yang tidak sama dan memiliki kerumitannya masing-masing. Kita tahu bahwa tidak semua pilihan dalam hidup ini dapat kita pilih dengan mudah.

Kadang-kadang kita menghadapi situasi yang dilematis seperti: di saat dana kita terbatas, kita harus mengambil keputusan untuk pengobatan bagi mama yang sedang sakit keras ataukah untuk anak yang harus dioperasi. Atau sikap kita yang tidak mudah memilih untuk pengobatan anak yang gagal ginjal selama bertahun-tahun sehingga membutuhkan biaya untuk cuci darah setiap minggu dua kali, ataukah lebih baik kita memilih untuk biaya pendidikan bagi anak-anak kita yang lain.

Kalau kita memilih masa depan dan pendidikan bagi anak-anak kita yang lain berarti kita akan mengambil keputusan untuk menghentikan perawatan medis bagi anak yang perlu cuci darah. Tentunya keputusan kita tersebut dapat menyebabkan kematian bagi anak yang sedang membutuhkan biaya untuk cuci darah. Namun jika kita memilih dana tersebut untuk cuci darah, berarti kita akan menelantarkan masa depan dan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak kita yang lain. Dalam hal ini kemampuan kita untuk memilih secara etis tidaklah cukup didukung dengan pengetahuan etis.

Kemampuan etis kita perlu dilandasi oleh kualitas kasih dan relasi yang mendalam dengan Allah, sang sumber Kehidupan dan sesama manusia. Kita mengimani bahwa Allah di dalam Kristus akan mengampuni kita ketika kita gagal untuk membuat pilihan dan keputusan yang tidak tepat dalam situasi yang dilematis. Kalau kita berpijak kepada pengetahuan etis, maka kita akan dirongrong oleh rasa bersalah. Sebaliknya ketika kita berpijak kepada anugerah dan rahmat Allah dan masukan dari semana manusia, kita dimampukan untuk melakukan pilihan dan keputusan yang sebaik-baiknya dengan kesadaran bahwa kita tidak mampu mengendalikan rahasia kehidupan ini. Jadi pilihan yang terbaik adalah bilamana dilandasi oleh kasih Allah, ide orang lain, sehingga kita mampu memilih secara bijaksana walaupun juga menyakitkan.

Seseorang yang mengasihi para anggota keluarga, nyawa dan harta miliknya lebih dari pada apapun juga pastilah akan lebih cenderung ingin memberlakukan keinginan dan orientasi hidupnya sebagai yang paling utama. Kita dapat melihat dalam banyak contoh ketika seseorang menempatkan para anggota keluarganya sebagai yang paling utama, maka akan muncul sikap Nepotisme. Atau seseorang yang terlalu mencintai nyawanya sendiri sehingga melahirkan sikap Egoisme diri, dan rasa cinta yang berlebihan kepada etnisnya sendiri akan melahirkan sikap Rasialisme; rasa cinta yang berlebihan kepada bangsanya sendiri melahirkan sikap Chauvinisme. Demikian pula rasa cinta kepada uang dan materi yang berlebihan akan melahirkan sikap Materialisme. Semua sikap tersebut terwujud dalam realita kehidupan manusia karena kita tidak menempatkan yang sebenarnya sebagai satu-satunya pusat kehidupan kita.

Bagaimana manusia menjadi mampu untuk bertindak menurut pengertian yang tepat? Untuk itu, kita harus masuk sedikiti ke dalam ajaran Aristoteles tentang KEUTAMAAN (Arete). Menurut Aristoteles, keutamaan adalah sikap-sikap batin yang di miliki manusia. (hexis probairetike). Aristoteles membedakan dua macam keutamaan, yaitu keutaman intelektual (aretai dianoetikai) dan keutamaan etis (aretai etikai). Yang pertama merupakan sikap akal budi, yang kedua sikap kehendak.

Sophia, dalam bahasa Inggris (Wisdom), adalah kebijaksaan orang yang hatinya terangkat ke tingkat alam adiduniawi, jadi kebijaksanaan orang ber-theoria. Itulah orang yang bijaksana karena tahu tentang realitas yang paling mendalam. 

Sedangkan phronesis (prudence) adalah kemampuan orang untuk mengambil sikap dan keputusan bijaksana dalam memecahkan berbagai masalah dalam Kehidupan sehari-hari. Menurut Plato, Phronesismengalir dari Sophia. Karena itu, Plato mengharapkan bahwa filsuflah, si pencinta Sophia, yang paling mampu memecahkan masalah-masalah dalam kepemimpinan dalam masyarakat dan oleh karena itu harus menjadi raja.

Menurut Demokritos (460-371 SM) menyatakan, nilai tertinggi adalah apa yang enak (hedonisme) dan kepintaran dalam berdebat lebih penting daripada pendekatan pada pembenaran. Sedangkan Socrates yakin bahwa orang akan berbuat benar apabila ia mengetahui apa yang baik baginya. Perbuatan yang salah adalah akibat kurang cerahnya pengertian diri manusia.

Sang Baik, Cinta dan Kebahagiaan
Menurut Plato, orang itu baik apabila ia DIKUASAI oleh AKAL BUDI, buruk apabila di kuasaun oleh keinginan dan hawa nafsu. Mengapa demikian? Karena selama kita dikuasai oleh nafsu dan emosi, kita di kuasai oleh sesuatu yang di luar kita. Itu berarti, kita tidak teratur, kita di tarik ke sana ke sini, kita menjadi kacau balau. Kita seakan-akan terpecah-belah, tergantung pada nafsu atau emosi mana yang sedang mengemudikan kita. Kita tidak memiliki diri kita, melainkan menjadi obyek doronga-dorongan irasional dalam diri kita.

Menurut Aristoteles, ada tiga pola hidup yang memuat kepuasan dalam dirinya sendiri, yaitu hidup yang MENCARI NIKMAT, hidup “praktis” atau POLITIS, dan hidup sebagai seorang filsuf, HIDUP KONTEMPLATIF. Anggapan pertama dalam filsuf disebut HEDONISME. Sejak zaman Yunani ada filsuf-filsuf yang mempermaklumkan salah satu bentuk hedonism. Salah satu kehebatan etika Aristoteles adalah bahwa ia bukan hanya menyangkal kebenaran anggapan bahwa PENCARI NIKMAT merupakan tujuna hidup manusia, melainkan juga merumuskan argumentasi yang pada hakikatnya sekarang pun masih meyakinkan. Alasan utama yang dikemukakan Aristoteles adalah bahwa perasaan nikmat tidak khas manusiawi. 

Orang yang hidupnya hanya mencari kenikmatan sama derajatnya dengan binatang, namun karena kita (manusia) bukan binatang, hidup sebagai binatang tidak mungkin membahagiakan karena tidak dapat membedakan apa yang baik dan buruk. Semoga di tahun baru, 2014 ini kita semua berusaha untuk mencari dan memilih kehidupan yang etis. 


No comments: